Pernah tertarik pada seseorang karena ia tampak seperti yang kita mau, lalu kecewa karena tidak sesuai ekspektasi? Ini penjelasan psikologisnya.
Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe!
Pernah nggak, kamu tertarik pada seseorang dan rasanya, tuh…klikbanget? Dia terlihat seperti semua yang kamu cari: dewasa, perhatian, punya mimpi yang sama, atau punya kualitas yang selama ini kamu kagumi. Rasanya seperti menemukan potongan puzzle yang hilang.
Tapi setelah beberapa waktu, pelan-pelan muncul rasa yang berbeda. Kok dia nggak seperti yang aku kira? Kok ternyata dia begini?
Kalau kamu pernah mengalaminya, kamu nggak sendirian. Fenomena ini sangat manusiawi, dan psikologi punya penjelasannya.
Kita Melihat Apa yang Ingin Kita Lihat

Di awal mengenal seseorang, informasi yang kita punya tentang dia masih sedikit. Tanpa sadar, kita mengisi kekosongan itu dengan harapan kita sendiri.
Dalam psikologi, ini disebut proyeksi. Carl Jung menjelaskan bahwa kita sering memproyeksikan gambaran ideal yang ada di dalam diri kita ke orang lain. Jadi yang kita kagumi sebenarnya bukan sepenuhnya orang itu, tapi bayangan yang kita tempelkan padanya.
Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa kita cenderung tertarik pada orang yang mirip dengan diri ideal kita, yaitu versi diri yang ingin kita capai. Orang itu terasa seperti “cerminan” dari apa yang kita mau.
Saat Realita Datang

Masalahnya, manusia nggak bisa terus-menerus sesuai dengan gambaran di kepala orang lain. Seiring waktu, sisi aslinya mulai terlihat: kebiasaannya, kekurangannya, cara dia menghadapi masalah, nilai-nilai yang ternyata berbeda.
Di titik ini muncul kekecewaan. Rasanya seperti dia berubah, padahal sering kali dia memang begitu dari awal. Yang berubah adalah cara kita melihatnya, karena gambaran yang kita bangun mulai runtuh.
Dalam teori komunikasi, ini disebut pelanggaran ekspektasi (expectation violation). Semakin tinggi harapan yang kita bangun, semakin besar rasa kecewanya ketika realita tidak sesuai.
Jadi, Salah Siapa?
Bukan soal salah siapa. Ketertarikan seperti ini sangat wajar. Bahkan, kekaguman pada seseorang bisa memotivasi kita untuk bertumbuh. Tapi ada satu hal yang perlu kita sadari: kadang kita jatuh cinta pada harapan kita sendiri, bukan pada orangnya.
Dan kekecewaan itu sebenarnya bisa jadi pintu untuk mengenal diri lebih dalam.
Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Kalau kamu sedang atau pernah mengalami ini, coba tanyakan pada dirimu:
- Apa yang paling membuatku tertarik padanya?
- Apakah itu kualitas yang sebenarnya ingin aku miliki sendiri?
- Apakah aku mengenal dia yang sebenarnya, atau hanya versi yang aku bayangkan?
Sering kali jawabannya membawa kita pulang ke diri sendiri: ke kebutuhan yang belum terpenuhi, atau ke versi diri yang ingin kita bangun.
Tertarik pada seseorang karena dia tampak seperti yang kita mau itu manusiawi. Kecewa karena dia ternyata berbeda juga manusiawi.
Yang membuat kita bertumbuh adalah kesediaan untuk melihat orang lain apa adanya, dan berhenti mencari di luar sesuatu yang sebenarnya bisa kita bangun di dalam diri sendiri.
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat dimulai dari dua orang yang saling melihat dengan jujur, bukan dari dua bayangan yang saling berharap.
Referensi
- Burgoon, J. K. (1993). Interpersonal expectations, expectancy violations, and emotional communication. Journal of Language and Social Psychology, 12(1–2), 30–48.
- Jung, C. G. (1959). Aion: Researches into the phenomenology of the self. Princeton University Press.
- Wetzel, C. G., & Insko, C. A. (1982). The similarity-attraction relationship: Is there an ideal one? Journal of Experimental Social Psychology, 18(3), 253–276.
— Dea Wicaksana

