
Ketika masa lalu mengetuk pintu, ternyata bukan membawa bunga, melainkan membawa brief proyek.
Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe!Hidup memang suka bercanda. Salah satu kejutan yang nggak pernah kubayangkan: bertemu lagi dengan mantan, tapi dalam situasi yang benar-benar berbeda.
Dulu, satu pesannya bisa bikin aku senyum-senyum sendiri. Sekarang, aku tetap senyum, tapi sambil ngecek apakah invoice-nya sudah dibayar.
Yang dulu pernah mengisi ruang hati, sekarang datang untuk mengisi daftar klien.
Act 1: When the Past Sends a Message
Pukul 04.30 subuh waktu Surabaya, masuk sebuah pesan dari nama yang sudah lama nggak muncul. Di Eropa, tempat dia tinggal, jam segitu masih tengah malam. Aku baru bangun, dia belum tidur.
“Hi! How are you? I’d like to discuss a project with you.”
Aku diam sebentar. Bukan karena terharu, apalagi deg-degan. Aku cuma memastikan ini benar dia, bukan akun palsu yang pakai fotonya.
Setelah yakin, aku tarik napas, lalu balas dengan gaya profesional.
“Hi, I’m good. Of course! I’ve just sent a project inquiry form to your email. Please fill it out, and we’ll take it from there.”
Iya, form. Lewat email. Biar dari balasan pertama, dia juga ikut profesional. Tanpa emoji hati, tanpa basa-basi panjang, tanpa sesi nostalgia. Mau curhat? Silakan isi kolom “Project Description” dulu. 😄
Sejak hari itu, orang yang dulu kupanggil dengan nama sayang resmi punya gelar baru: Mr. Client.
Act 2: From “Sayang” to “Please Send the Brief”

Dulu, balasanku bisa panjang kayak cerpen. Sekarang? Rapi, singkat, dan to the point.
“Good morning, Mr. Client. Please send the brief, design references, budget, and project timeline.”
Mungkin dia kaget. Mungkin dia kira masih ngobrol sama aku yang dulu. Sayangnya, aku yang sekarang sudah akrab dengan proposal, kontrak, revisi, dan invoice.
“Wow, you’re so formal now, huh?”
“Thank you, Mr. Client. I’m simply adjusting my communication to professional standards.”
Padahal dalam hati: dulu minta kepastian hubungan saja susah, sekarang minta kepastian deadline tiap dua jam.
Tenang, kalimat itu nggak kukirim. Cukup kusimpan buat bahan ketawa sendiri.
Act 3: When Mr. Client Gets Nostalgic
Proyek jalan lancar, sampai suatu hari muncul pesan yang agak lain.
“Do you still remember the old days?”
Oh, ternyata ada fitur tambahan di proyek ini. Bukan revisi desain, tapi revisi kenangan.
“Of course, Mr. Client. However, for matters outside the project, perhaps we can schedule a separate meeting.”
“So you’ve really forgotten me?”
“Not at all, Mr. Client. I’m just making sure every discussion has a clear scope.”
Lucu juga kalau dipikir. Dulu, pertanyaan begitu bisa bikin aku nggak tidur semalaman. Sekarang yang kepikiran malah: obrolan ini masuk jam kerja yang bisa ditagih, nggak ya?
Nggak semua hal bisa dihitung pakai uang. Tapi waktu profesional tetap ada harganya. Dan nostalgia nggak otomatis dapat tarif khusus.
Act 4: The Discount Request That Tests Your Faith
Ujian sesungguhnya datang begitu penawaran harga terkirim.
“Can you give me a special price? We know each other, right?”
Wah. Ternyata masa lalu masih ada gunanya. Bukan buat balikan, tapi buat minta diskon.
“Thank you for your trust, Mr. Client. The price already reflects the scope of work, the timeline, and the quality we’re aiming for.”
Dia belum menyerah.
“Just a little. Call it a friend’s price.”
“Alright, Mr. Client. Then let’s treat this as a professional project. For a friend’s price, kindly attach a valid certificate of friendship.”
Hening. Beberapa menit nggak ada balasan. Mungkin sinyalnya tiba-tiba hilang. Atau mungkin dia lagi antre di kelurahan, ngurus surat keterangan pertemanan.
Act 5: The Off-Topic Question

Beberapa hari kemudian, di tengah obrolan soal material, warna, dan jadwal, tiba-tiba nyelip satu pertanyaan.
“Are you seeing someone now?”
“Mr. Client, is that question related to the project specifications?”
“Oh come on. I’m just asking.”
“Of course, Sir. But to keep things professional, let’s get back to the project. We were discussing the revisions.”
Jadi dewasa bukan berarti nggak punya perasaan. Jadi dewasa itu tahu kapan obrolan perlu dilanjut, dan kapan harus balik kerja. Apalagi kalau deadline sudah di depan mata.
Perasaan bisa menunggu. Deadline nggak.
Act 6: Closing the Project, Not Reopening the Relationship
Akhirnya proyek selesai. Semua hasil diserahkan sesuai kesepakatan, semua revisi beres.
“Thank you for your trust, Mr. Client. The project is complete. Please confirm receipt of the deliverables and settle the final invoice.”
“After all this, we can still be friends, right?”
Aku senyum. Nggak semua mantan harus jadi musuh. Nggak semua pertemuan ulang harus penuh drama. Kadang dua orang bisa ketemu lagi, kerja bareng, dan tetap saling menghormati batas.
“Of course, Mr. Client. I hope we can keep a good professional relationship.”
Percakapan selesai. Nggak lama, satu notifikasi masuk.
Payment received.

Nah, senyumku langsung jauh lebih lebar. Ini baru kabar yang bikin hati adem. Bukan karena mantan kembali, bukan karena masa lalu terulang, tapi karena proyek selesai, klien puas, dan invoice lunas.
Ternyata banyak cara buat dapat closure. Salah satunya: pembayaran lunas, tanpa perlu ada pesan “Kamu sudah makan?”
Epilogue: Exes Are Welcome, Professionalism Comes First
Dari pengalaman unik ini, aku belajar satu hal. Kita nggak selalu bisa memilih siapa yang kembali ke hidup kita. Tapi kita selalu bisa memilih cara memperlakukan mereka.
Kalau mantan datang sebagai klien, sambut dengan profesional. Kasih hasil terbaik, buat kesepakatan yang jelas, dan jangan campur urusan hati dengan urusan kerja.
Dan yang paling penting: jangan kasih diskon cuma karena dia pernah punya akses istimewa ke hati kita. Akses itu sudah ditutup. Yang masih buka cuma layanan profesional, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.
Mantan boleh kembali jadi klien. Tapi layanan premium nggak gratis cuma karena nostalgia.
Salam profesional,
Dea Wicaksana
Concept Designer | Where Art Meets Living
