Memaafkan Bukan Melupakan

Siang tadi ada pesan masuk dari seorang teman. Kalimat pembukanya bikin berhenti sebentar: kepalanya sampai sakit. Dia bingung, gimana sih caranya memaafkan orang yang bukan cuma di mulut, tapi beneran di batin?

Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe!

Dia kira sudah memaafkan. Sudah ikhlas, sudah mau lihat ke depan. Tapi begitu orang itu ngomong yang negatif sedikit saja, emosinya langsung meluap. Jengkel yang dia kira sudah hilang ternyata masih ada, cuma lagi tidur.

Rasanya banyak dari kita pernah ada di posisi itu. Sudah merasa damai, eh ternyata belum.

Mungkin yang selama ini terjadi baru melupakan, belum memaafkan. Dua hal yang kelihatannya mirip, padahal beda jauh. Melupakan itu seperti menyimpan barang yang bikin sakit hati ke laci paling bawah, lalu ditutup rapat-rapat. Aman, selama lacinya nggak dibuka. Masalahnya, cukup satu kalimat nyelekit, lacinya langsung kebuka dan semua isinya tumpah lagi.

Psikolog Everett Worthington, yang puluhan tahun meneliti soal memaafkan, punya penjelasan menarik soal ini. Menurutnya ada dua jenis memaafkan. Yang pertama memaafkan sebagai keputusan, semacam “oke, nggak akan dibalas.” Yang kedua memaafkan secara emosional, saat perasaan kita benar-benar berubah dari pahit jadi lebih tenang. Yang pertama bisa terjadi dalam sehari. Yang kedua butuh waktu, kadang lama. Jadi wajar kalau kepala sudah bilang “sudah dimaafkan”, tapi hati masih tertinggal di belakang.

Itu juga sebabnya emosi yang meluap tadi bukan tanda kita gagal. Itu cuma tanda lukanya belum selesai diproses.

Terus harus gimana?

Mungkin mulainya dari berhenti pura-pura baik-baik saja. Ada penelitian dari Matthew Lieberman di UCLA yang menunjukkan bahwa sekadar menamai perasaan, seperti “lagi kesal” atau “masih sakit hati”, bisa menurunkan intensitas emosi itu sendiri. Kedengarannya sepele, tapi perasaan yang diakui memang lebih cepat reda daripada perasaan yang dipaksa hilang.

Lalu, waktu emosi mulai naik lagi, coba kasih jeda sebentar sebelum bereaksi. Tarik napas, terus tanya ke diri sendiri: yang bikin marah ini kata-katanya hari ini, atau luka yang kemarin? Sering kali jawabannya yang kedua. Kalimat hari ini cuma jadi pintu masuk buat semua yang belum selesai.

Dan kalau semua itu sudah dicoba tapi tetap belum bisa? Ya sudah, lepaskan saja. Nggak usah dipaksa.

Karena kalau mau jujur, masalahnya sering kali bukan di orang itu. Masalahnya ada di dalam diri kita sendiri, di seberapa besar ruang yang kita kasih buat dia. Psikolog Albert Ellis sudah lama bilang, yang bikin kita kacau bukan kejadiannya, tapi cara kita memaknai kejadian itu. Omongan yang sama bisa lewat begitu saja di telinga satu orang, tapi bisa jadi badai di kepala orang lain.

Jadi pertanyaannya sebenarnya simpel: seberapa penting sih orang itu buat hidup kita? Bukan soal uang, ya. Tapi soal kontribusinya. Apakah sikapnya selama ini bikin kita tumbuh, bikin tenang, bikin jadi versi yang lebih baik? Kalau jawabannya nggak, kenapa omongannya harus dikasih tempat sebesar itu di hati?

Intinya, jangan baper. Nggak semua kalimat orang perlu kita bawa pulang dan dipikirkan sampai kepala sakit.

Di akhir pesannya, teman tadi juga bilang ingin jadi perempuan yang fokus sama diri sendiri, banyak bersyukur, dan legowo dengan semuanya. Keinginan yang indah sekali. Tapi legowo bukan berarti nggak boleh marah. Legowo justru datang setelah kita jujur sama perasaan sendiri, lalu memilih untuk nggak lagi memberi panggung pada hal yang nggak penting.

Soal bersyukur, ada cara sederhana yang sudah banyak diteliti, salah satunya oleh Robert Emmons: tiap malam tulis beberapa hal yang kita syukuri hari itu. Nggak perlu yang besar. Kopi yang pas manisnya, pesan dari teman lama, atau sekadar berhasil melewati hari yang berat. Pelan-pelan, perhatian kita ikut pindah. Dari “dia ngomong apa lagi” jadi “mau tumbuh ke mana kita.”

Nggak harus sembuh hari ini kok. Mau melangkah ke depan saja, itu sudah langkah yang besar.

Dan kalau suatu saat drama itu datang lagi, cukup ingat satu kalimat ini:

“OKOK, STOP DRAMANYA, ELENA! BESOK SENIN. TAGIHAN TIDAK MENERIMA ALASAN EMOSIONAL!” 🤣☕

Dengan hangat,
Dea Wicaksana

Discover more from Dea Wicaksana

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading